Definisi :
SOL
merupakan generalisasi masalah tentang adanya lesi pada ruang
intracranial khususnya yang mengenai otak. Banyak penyebab yang dapat
menimbulkan lesi pada otak seperti kuntusio serebri, hematoma, infark,
abses otak dan tumor intra kranial (Long, 1996).
Dalam
Laporan Pendahuluan ( LP ) ini, penulis batasi pada Tumor Otak Adapun
definisi Tumor Otak adalah Tumor otak adalah suatu pertumbuhan jaringan
yang abnormal di dalam otak. Yang terdiri atas Tumor otak benigna dan
maligna. Tumor otak benigna adalah pertumbuhan jaringan abnormal di
dalam otak, tetapi tidak ganas, sedangkan tumor otak maligna adalah
kanker di dalam otak yang berpotensi menyusup dan menghancurkan jaringan
di sebelahnya atau yang telah menyebar (metastase) ke otak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah.
Etiologi:
Penyebab
tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti, walaupun
telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang
perlu ditinjau, yaitu:
>Herediter:
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali
pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada
anggota-anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas.
>Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest).
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang
mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada
kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh,
menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya.
>Radiasi:
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat
mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat
memicu terjadinya suatu glioma.
>Virus:
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar
yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam
proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan
hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem
saraf pusat.
>Substansi-substansi
Karsinogenik: Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan
luas dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik
seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.
Gejala Klinis
Tumor
otak bisa mengenai segala.usia, tapi umumnya pada usia dewasa muda atau
pertengahan, jarang di bawah usia 10 tahun atau di atas 70 tahun.
Sebagian ahli menyatakan insidens pada laki-laki lebih banyak dibanding
wanita, tapi sebagian lagi menyatakan tak ada perbedaan insidens antara
pria dan wanita. Gejala umum yang terjadi disebabkan karena gangguan
fungsi serebral akibat edema otak dan tekanan intrakranial yang
meningkat.
Gejala
spesifik terjadi akibat destruksi dan kompresi jaringan saraf, bisa
berupa nyeri kepala, muntah, kejang, penurunan kesadaran, gangguan
mental, gangguan visual dan sebagainya. Edema papil dan defisit
neurologis lain biasanya ditemukan pada stadium yang lebih lanjut.
Gejala umum
Biasanya
disebabkan oleh karena tekanan intrakranial yang meningkat. Kenaikan
tekanan intrakranial dapat disebabkan oleh faktor-faktor :
- langsung oleh masa tumor sendiri
- edema serebri
- obstruksi aliran cairan serebro spinalis
- obstruksi sistema vena serebri
- gangguan mekanisme absorbsi cairan serebro spinalis
1. Nyeri kepala :Merupakan
keluhan utama pada kira-kira 20% kasus. Dapat dirasakan selama
perjalanan penyakitnya, dapat umum atau terlokalisir pada daerah yang
berlainan. Sifat nyerinya digambarkan sebagai nyeri berdenyut atau
dirasakan sebagai rasa penuh di kepala dan seolah-olah kepala mau
"meledak". Timbulnya dimulai pagi hari, dikaitkan oleh karena kenaikan
kadar CO2 selama tidur. Adanya CO2 ini menyebabkan aliran darah serebral
meningkat serta kongesti dari sistema vena serebral. Ini mengakibatkan
tekanan intrakranial meningkat. Nyeri dapat diperhebat dengan gerakan
manuver valsava, batuk, bersin, mengejan, mengangkat barang ataupun
ketegangan.
2. Muntah :
Muntah tidak berhubungan dengan lokalisasi tumor, sering timbul pada
pagi hari. Sifat muntah adalah khas, yaitu proyektil atau muncrat dan
tidak didahului rasa mual.
3. Kejang : Kejang
dapat merupakan manifestasi pertama tumor otak pada 15% kasus.
Dikatakan, bahwa apabila terjadi kejang fokal pada orang berumur di
bawah 50 tahun, harus dipikirkan adanya tumor otak, selama penyebab lain
belum ditemukan. Dalam hal terjadinya kejang, lokasi tumor lebih
penting daripada histologinya. Tumor
yang jauh dari korteks motoris akan jarang menimbulkan kejang.
Meningioma pada konveksitas otak, sering menimbulkan kejang fokal
sebagai gejala dini. Sedangkan kejang urnum biasanya terjadi, apabila
kenaikan tekanan intrakranial melonjak secara cepat misalnya pada
glioblastoma multiforme.
4. Gangguan mental : Gejala
gangguan mental tidak perlu dihubungkan dengan lokalisasi tumor,
walaupun beberapa sarjana menyatakan bahwa gejala ini sering dijumpai
pada tumor lobus frontalis dan temporalis. Juga dikatakan bahwa
menigioma merupakan tumor yang sering menimbulkan gangguan mental.
Gejalanya sangat tidak spesifik. Dapat berupa apatis, demensia, gangguan
memori, gangguan intelegensi, gangguan tingkah laku, halusinasi sampai
seperti psikosis.
5. Pembesaran kepala :
Keadaan ini hanya terjadi pada anak-anak, dimana suturanya belum
menutup. Dengan meningkatnya tekanan intrakranial, sutura akan melebar
dan fontanella anterior menjadi menonjol. Pada beberapa anak sering
terlihat pembendungan vena didaerah skalp dan adanya eksoftalmos. Pada
perkusi terdengar suara yang khas, disebut crack pot signs (bunyi gendi yang rengat).
6. Papil edema :
Papil edema dapat terjadi oleh karena tekanan intrakranial yang
meningkat atau akibat langsung dari tekanan tumor pada N II. Derajat
papil edema tidak sebanding dengan besarnya tumor dan tidak sama antara
mata satu dan lainnya. Bila tekanan intrakranial meningkat dengan cepat,
akan terjadi pembendungan vena-vena N. Optikus dan diskus optikus
menjadi pucat serta membengkak. Sering disertai perdarahan-perdarahan
disekitar fundus okuli. Pada papil edema yang kronis dapat menyebabkan
gliosis N. Optikus dan akhirnya N. Optikus mengalami atrofi sekunder
dengan akibat kebutaan. Dilaporkan bahwa 60% dari tumor otak
memperlihatkan gejala papil edema, dan 50% diakibatkan oleh tumor
supratentorial.
7. Sensasi abnormal di kepala : Banyak penderita merasakan berbagai macam rasa yang samar-samar. Sering dikeluhkan sebagai enteng kepala (light-headness), pusing (dizziness) dan lain-lainnya. Keadaan ini mungkin sesuai dengan tekanan intrakranial yang meningkat.
8. Bradikardi dan tensi meningkat :Keadaan ini dianggap sebagai mekanisme kompensatorik untuk menanggulangi iskemia otak.
9. Perubahan respirasi : Hal ini akibat tekanan intrakranial yang meningkat. Dapat timbul respirasi tipe Cheyne Stokes, dilanjutkan dengan hiperventilasi-respirasi irreguler-apneu, akhirnya kematian.
Gejala fokal
Gejala-gejala
fokal sangat tergantung dengan lokalisasi tumor. Gejalanya sesuai
dengan fungsi jaringan otak yang ditekan atau dirusak, dapat
perlahan-lahan atau cepat. Dapat menimbulkan disfungsi, misalnya
hemiparesis, afasia motorik ataupun paresis saraf kranial, sebelum
tekanan intrakranial meninggi secara berarti. Dalam
hal ini, gejala dan tanda di atas mempunyai arti lokalisasi/fokal.
Dibawah ini akan diuraikan tentang beberapa gejala dan manifestasi fokal
yang menunjukkan lokasi tumor otak.
1. Tumor lobus frontalis :
Tumor
di daerah ini pada umumnya menimbulkan gangguan kepribadian dan mental.
Dapat timbul perlahan-lahan, beberapa bulan sampai bertahun-tahun. Pada
mulanya penderita menjadi apatis, kurang atau hilangnya
perhatian/kontrol, kemudian kesukaran dalam pandangan kedepan (lack of fore sight), kesukaran dalam pekerjaan dan akhirnya regresi dalam tingkah laku sosial, kebiasaan dan penampilan, serta gangguan psikoseksual.
2. Tumor lobus temporalis :
Lobus
temporalis mempunyai ambang yang rendah untuk timbulnya serangan
epilepsi. Tumor yang menekan atau timbul di Unkus mengakibatkan uncinate fit yaitu
kejang parsiil, yang dapat terjadi beberapa kali dalam satu hari.
Biasanya dimulai dengan halusinasi bau atau rasa. 80% dengan halusinasi
bau busuk dan 20% halusinasi bau bunga. Ini merupakan sensasi yang pertama.
3. Tumor lobus parietalis :
Tumor
di daerah parietalis dapat merangsang korteks sensoris, sebelum
manifestasi lain dijumpai. Area parietalis ini berguna untuk
diskriminasi tekstur, berat, ukuran, bentuk dan
identifikasi obyek yang diraba. Akibat rangsangan disini ialah serangan
Jackson sensorik. Jika tumor menimbulkan kerusakan strukturil di daearah
ini, maka segala macam perasaan di butuh kontralateral sisi lesi, tidak
dapat dirasakan dan dikenal.
4. Tumor lobus oksipitalis :
Tumor di daerah ini biasanya jarang. Gejala dini yang menonjol sering berupa nyeri kepala di daerah oksipital, kemudian disusul oleh adanya gangguan yojana penglihatan.
5. Tumor serebellum :
Tumor
serebellum cepat mengadakan obstruksi aliran cairan serebro spinalis,
sehingga tumor ini cepat menimbulkan tekanan intrakranial yang
meningkat. Gejala nyeri kepala, muntah dan papil edema sering sebagai
gejala dini, disusul dengan gangguan gait dan gangguan koordinasi. Nyeri kepala dirasakan didaerah oksipital dan dapat menjalar ke leher bawah.
Patofisiologi: (terlampir)
Pemeriksaan fisik
1. Kaji tingkat kesadaran pasien dengan menggunakan GCS
2. Kaji
status mental (inspeksi ekspresi wajah, kemampuan bicara, perasaan dan
mood, orientasi waktu, tempat dan orang, rentang perhatian, daya ingat
jangka pendek dan panjang, kemampuan mengambil keputusan, proses pikir,
persepsi klien terhadap lingkungan)
3. Kaji rasa nyaman dan nyeri
4. Kaji fungsi sensori
5. Kaji akurasi pekak, sensasi panas
6. Kaji fungsi motorik (mengenggam, kekuatan kaki, pergerakan dan postur)
7. Kaji apakah ada tremor dan pusing
8. Kaji reflek (biseps, trisep, brakioradialis, patela, achilles, plantar)
9. Kaji tanda peradangan (meningen)
Pemeriksaan diagnostik
1. CT
Scan; memberi informasi spesifik mengenai jumlah, ukuran, kepadatan,
jejas tumor dan meluasnya edema serebral sekunder serta memberi
informasi tentang sistem vaskuler
2. MRI;
membantu dalam mendeteksi jejas yang kecil dan tumor didalam batang
otak dan daerah hiposisis, dimana tulang menggangu dalam gambaran yang
menggunakan CT Scan
3. Biopsi
Stereotaktik bantuan komputer (tiga dimensi); dapat mendiagnosa
kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberi dasar pengobatan serta
informasi prognosis
4. Angiografi; memberi gambaran pembuluh darahserebral dan letak tumor
5. Elektroensefalografi
(EEG); mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati
tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada
waktu kejang
Diagnosa keperawatan yang sering muncul
1. Gangguan
perfusi jaringan serebral b.d penghentian aliran darah oleh SOL
dibuktikan dengan perubahan tingkat kesadaran, kehilangan memori,
perubaan respon motorik / sensori, gelisah dan perubahan tanda vital
2. Resiko tinggi terhadap ketidakefektifan pola napas b.d kerusakan neurovaskuler, kerusakan kognitif
3. Nyeri
( akut ) / kronis b.d agen pencedera fisik, kompresi saraf oleh SOL,
peningkatan TIK, ditandai dengan : menyetakan nyeri oleh karena
perubahan posisi, nyeri, pucat sekitar wajah, perilaku berhati hati,
gelisah condong keposisi sakit, penurunan terhadap toleransi aktivitas,
penyempitan fokus pada diri sendiri, wajah menahan nyeri, perubahna pola
tidur, menarik diri secara fisik
Intervensi keperawatan dan rasional
|
Dx.
|
Intervensi keperawatan
|
Rasional
|
|
I
|
Mandiri:
Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital sesuai indikasi setelah dilakukan pungsi lumbal
à Pantau/catat status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya, seperti GCS
à Pantau TTV
à Pantau frekuensi dan irama jantung
à Pantau pernapasan, catat pola dan irama pernapasan
à Pantau
suhu dan juga atur suhu lingkungan sesuai kebutuhan. Batasi
penggunaan selimut dan lakukan kopres hangat jika terjadi demam
à Pantau masukan dan pengeluaran, catat karakteristik urin, turgor kulit, dan keadaan membra mukosa
à Bantu pasien untuk berkemih/membatasi batuk, muntahdan mengejan
à Berikan tindakan yang dapat memberikan rasa nyaman seperti massase punggng
à Anjurkan keluarga berbicara pada klien jika diperlukan
Kolaborasi
à Tinggikan kepala tempat tidur sekitar 15-45 0 sesuai toleransi/indikasi
à Berikan
cairan IV dengan alat kontrol khusus, batasi pemasukan cairan dan
berikan cairan hipertonik/eletrolit sesuai indikasi
à Pantau gas darah arteri dan berikan terapi O2 sesuai indikasi
à Gunakan selimut hipotermia
à Berikan obat sesuai indikasi sepertia; steroid, klorpomasin, asetaminofen
|
à Perubahan tek. CSS merupakan potens adanya resiko herniasi batang otak
à Pengkajian
kecendrungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensi TIK
adalah sangat berguna dalam menentukan lokasi, penyebaran, luas dan
perkembangan dari kerusakan
à Normalnya,
autoregulasi mampu mempertahankan aliran darah serebral dengan
konstans sebagai dampak adanya fruktuasi pada tekanan darah sistemik
à Perubahan
pada frekuensi dan disritmia dapat terjadi, yang mencerminkan
trauma/tekanan batang otak tentang ada tidaknya penyakit jantung yang
mendasari
à Tipe dari pola pernapasan merupakan tanda yang berat dari adanya peningkatan TIK/daerah serebral yang terkena
à Demam biasanya berhubungan dengan proses inflamasi tetapi mungkin merupakan komplikasi dari kerusakan pada hipotalamus
à Hipertermi meningkatkan kehilangan air dan meningkatan resiko dehidrasi, terutama jika tingkat kesadaran menrun
à Aktivitas seperti ini akan meningkatkan tekanan intrathorak dan intraabdomen yang dapat meningkatkan TIK.
à Menurunkan stimulus sensori yang berlebihan
à Mendengarkan suara yang menyenangkan dari orang terdekat untuk menimbulkan pengaruh relaksasi pada pasien
à Peningkatan aliran vena dari kepala akan menurunkan TIK
à Meminimalkan fruktuasi dalam aliran vaskuler dan TIK
à Terjadinya asidosis dapat menghambat masukan oksigen pada tingkat sel yang memburuk
à Membantu dalam mengontrol peningkatan suhu
à Dapat
menurunkan permeabelitas kapiler untuk membatasi pembentukan edema,
mengatasi kelainan postur tubuh/menggigil yang dapat meningkatkan TIK,
menurunkan metabolisme seluler/menurunkan konsumsi oksigen dan resiko
kejang
|
|
II
|
Mandiri
Pantau adanya kejang pada tangan, kaki dan wajah
Berikan keamanan berupa bantalan pada penghalang tempat tidur
Pertahankan tirah baring selama fase akut
Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi seperti; fentoin, diazepam, fenobarbital
|
Mencerminkan adanya iritasi SSP secara umum yang memerlukan evaluasi segera
Melindungi pasien jika terjadi kejang
Menurunkan resiko terjath/trauma jika terjadi vertigo, sinkop atau ataksia
Indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang
|
|
III
|
Mandiri
Berikan lingkungan yang tenang
Tingkatkan tirah baring, bantu perawatan diri pasien
Letakkan kantung es pada kepala, pakain dingin diatas mata
Dukung pasien untuk menemukan posisi yang nyaman
Berikan latihan ROM aktif/pasif
Gunakan pelembab yang agak hangat pada nyeri leher/punggung yang tidak ada demam
Kolaborasi
Berikan analgetik seperti; asetaminofen, kodein
|
Menurunkan reaksi terhadap stimulus dari luar dan meningkatkan istirahat
Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri
Meningkatkan vasokontriksi, penumpukan resepsi sensori akan menrunkan nyeri
Menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut
Membantu merelaksasi ketegagan otot yang meningkatkan reduksi nyeri
Meningkatkan relaksasi otot dan menurunkan rasa sakit
Diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar