CEDERA
KEPALA
A. PENGERTIAN
Trauma
kranioserebral (Cedera kepala) adalah
luka yang terjadi pada kulit kepala, tulang kepala atau otak.
Cedera kepala merupakan disfungsinya organ saraf pusat yang disebabkan oleh trauma luar.
Cedera
kepala dapat mempengaruhi perubahan fisik maupun psikologis bagi klien dan
keluarganya.
B. ETIOLOGI
1. Kecelakaan
lalulintas
2. Kecelakaan
kerja
3. Trauma
pada waktu olahraga
4. Kejatuhan
benda
5. Luka
tembak
C. PATOFISIOLOGI
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen
dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel-sel syaraf
hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan oksigen,
jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan
gangguan fungsi. Demikian
pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh
kurang dari 20 mg% karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25%
dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun
sampai 70% akan terjadio gejala. Gejala permulaan disfungsi serebral, pada saat
otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui
proses metabolik anaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah.
D. TANDA DAN
GEJALA
1. Tingkat
keparahan cedera kepala
a. Cedera
kepala ringan, nilai skala Koma Glasgow (GCS) 13-15, dapat terjadi kehilangan
kesadaran atau amnesia tetapi kurang
dari 30 menit, tidak ada fraktur tengkorak, tidak ada kontusio serebri maupun
hematoma.
b. Cedera
kepala sedang, nilai GCS 9-12, kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari
30 menit tetapi kurang dari 24 jam, dapat mengalami fraktur tengkorak.
c. Cedera
kepala berat, nilai GCS 3-8, kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia
lebih dari 24 jam, juga meliputi kontusio serebral-laserasi-hematoma
intrakranial.
2. Tanda
dan gejala trauma kepala
a. Pingsan
setelah trauma dibawah 10 menit
b. Nyeri
kepala
c. Mual
dan muntah
d. Amnesia
sesaat/sementara
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium darah rutin: Hb, hematokrit, trombosit,
elektrolit, ureum, kreatinin, glukosa, golongan darah, analisa gas darah bila
perlu.
2. Foto kepala: AP, lateral, Towne.
3. Foto cervikal
bila ada tanda-tanda fraktur servikal.
4. CT-scan
5. Arteriografi bila perlu
6. Burr-holes: dilakukan bila keadaan pasien
cepat memburuk disertai dengan penurunan kesadaran, pupil anisokor, hemiparesis
kolitio lateral.
F. KOMPLIKASI
1.
Perdarahan
Intrakranial
a. Epidural
b. Subdural
c. Sub
arachnoid
d. Intra
serebral
e. Intra
ventrikuler
f.
Malformasi vaskuler
g. Fistula
karotika-kavernosa
h. Fistula
cairan serebrospinal
Pareses
syaraf kranial
Epilepsi
Hidrosefalus
Meningitis atau abses otak
Sindroma pasca trauma
2.
Tindakan
Infeksi
Perdarahan ulang
Edema serebri
Pembengkakan otak
G. MANAJEMEN TERAPI
1. Penatalaksanaan dan mempertahankan jalan nafas (Airway)
2. Pertahankan
ventilasi dan oksigenasi adekuat (mencegah hiperkapnia dan hipoksia).
3. Pertahankan
Drainase Vena
4. Jaga
jarak waktu saat melakukan tindakan keperawatan.
5. Cegah
overload cairan (pertahankan normovolemik).
6. Penatalaksanaan
tekanan darah yang optimal
7. Mempertahankan
normotermi atau hipotermi terapeutis (34 o – 35 o)
8. Hindari
valsava manuver dan aktivitas isometric
9. Mencegah
cedera lebih lanjut.
10. Memenuhi
kebutuhan metabolik
11. Membantu
keluarga
12. Penatalaksanaan
tindakan kolaboratif
13. Monitoring
secara ketat kadar darah dan pertahankan kadar gula darah dalam rentang 100 –
150 mg/dl. Pada pasien cedera kepala traumatik kadar gula darah sebaiknya
dimonitor tiap 2 –4 jam.
14. Monitoring komplikasi
15. Tindakan
perawatan pendukung
16. Observasi tanda-tanda adanya peningkatan tekanan intra kranial (TIK)
H. PENATALAKSANAAN
1. Obat-obatan:
dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai
dengan berat ringannya trauma.
2. Terapi
hiperventilasi (trauma kepala berat) untuk mengurangi vasodilatasi.
3. Pemberian analgetika
4. Pengobatan
anti edema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20% atau glukosa 40% atau
gliserol 10%.
5. Antibiotika
yang mengandung barier darah otak (penisilin) atau untuk infeksi anaerob
diberikan Metronidazole.
6. Makanan
atau cairan. Pada trauma ringan, bila muntah-muntah tidak dapat diberikan
apa-apa, hanya cairan infus dextrose 5%, Aminofusin, Aminofel (18 jam pertama
dari terjadinya kecelakaan), 2-3 hari kemudian diberikan makanan lunak.
7. Pemberian oksigenasi yang maksimal. pertahankan Analisa Gas Darah dalam rentang nilai yang bagus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar