Kamis, 25 Juni 2015

LP CIDERA KEPALA LENGKAP


CEDERA KEPALA

A.       PENGERTIAN

Trauma kranioserebral (Cedera  kepala) adalah luka yang terjadi pada kulit kepala, tulang kepala atau otak.
Cedera kepala merupakan disfungsinya organ saraf pusat yang disebabkan oleh trauma luar.
Cedera kepala dapat mempengaruhi perubahan fisik maupun psikologis bagi klien dan keluarganya.

B.    ETIOLOGI
1.       Kecelakaan lalulintas
2.       Kecelakaan kerja
3.       Trauma pada waktu olahraga
4.       Kejatuhan benda
5.       Luka tembak

C.    PATOFISIOLOGI 
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel-sel syaraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg% karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan terjadio gejala. Gejala permulaan disfungsi serebral, pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah.

D.   TANDA DAN GEJALA
1. Tingkat keparahan cedera kepala
a.       Cedera kepala ringan, nilai skala Koma Glasgow (GCS) 13-15, dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi  kurang dari 30 menit, tidak ada fraktur tengkorak, tidak ada kontusio serebri maupun hematoma.
b.       Cedera kepala sedang, nilai GCS 9-12, kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam, dapat mengalami fraktur tengkorak.
c.       Cedera kepala berat, nilai GCS 3-8, kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam, juga meliputi kontusio serebral-laserasi-hematoma intrakranial.
2. Tanda dan gejala trauma kepala
a.       Pingsan setelah trauma dibawah 10 menit
b.       Nyeri kepala
c.       Mual dan muntah
d.       Amnesia sesaat/sementara
E.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.       Laboratorium darah rutin: Hb, hematokrit, trombosit, elektrolit, ureum, kreatinin, glukosa, golongan darah, analisa gas darah bila perlu.
2.     Foto kepala: AP, lateral, Towne.
3.     Foto cervikal  bila ada tanda-tanda fraktur servikal.
4.     CT-scan
5.     Arteriografi bila perlu
6.     Burr-holes: dilakukan bila keadaan pasien cepat memburuk disertai dengan penurunan kesadaran, pupil anisokor, hemiparesis kolitio lateral.

F.     KOMPLIKASI
1.       Perdarahan Intrakranial
a.       Epidural
b.       Subdural
c.       Sub arachnoid
d.       Intra serebral
e.       Intra ventrikuler
f.        Malformasi vaskuler
g.       Fistula karotika-kavernosa
h.       Fistula cairan serebrospinal
 Pareses syaraf kranial
Epilepsi
Hidrosefalus
Meningitis atau abses otak
Sindroma pasca trauma
2.       Tindakan
           Infeksi
           Perdarahan ulang
           Edema serebri
           Pembengkakan otak

G.     MANAJEMEN TERAPI
1.       Penatalaksanaan  dan mempertahankan jalan nafas (Airway)
2.       Pertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat (mencegah hiperkapnia dan hipoksia).
3.       Pertahankan Drainase Vena
4.       Jaga jarak waktu saat melakukan tindakan keperawatan.
5.       Cegah overload cairan (pertahankan normovolemik).
6.       Penatalaksanaan tekanan darah yang optimal
7.       Mempertahankan normotermi atau hipotermi terapeutis (34 o – 35 o)
8.       Hindari valsava manuver dan aktivitas isometric
9.       Mencegah cedera lebih lanjut.
10.   Memenuhi kebutuhan metabolik
11.   Membantu keluarga
12.   Penatalaksanaan tindakan kolaboratif
13.   Monitoring secara ketat kadar darah dan pertahankan kadar gula darah dalam rentang 100 – 150 mg/dl. Pada pasien cedera kepala traumatik kadar gula darah sebaiknya dimonitor tiap 2 –4 jam.
14.    Monitoring komplikasi
15.   Tindakan perawatan pendukung
16.   Observasi tanda-tanda adanya peningkatan tekanan intra kranial (TIK)
  
H.     PENATALAKSANAAN
1.    Obat-obatan: dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai dengan berat ringannya trauma.
2.    Terapi hiperventilasi (trauma kepala berat) untuk mengurangi vasodilatasi.
3.     Pemberian  analgetika
4.     Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20% atau glukosa 40% atau gliserol 10%.
5.    Antibiotika yang mengandung barier darah otak (penisilin) atau untuk infeksi anaerob diberikan Metronidazole.
6.     Makanan atau cairan. Pada trauma ringan, bila muntah-muntah tidak dapat diberikan apa-apa, hanya cairan infus dextrose 5%, Aminofusin, Aminofel (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan), 2-3 hari kemudian diberikan makanan lunak.
7.   Pemberian oksigenasi yang maksimal. pertahankan Analisa Gas Darah dalam rentang nilai yang bagus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar