Selasa, 30 Juni 2015

PENGERTIAN, PENYEBAB, PENANGANAN, KOMPLIKASI & PATHWAY FRAKTUR



FRAKTUR

a. Definisi Fraktur
           Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis serta luasnya. Fraktur dapat disebabkan oleh adanya pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak ataupun kontraksi otot ekstrim. Meskipun patah jaringan sekitarnya juga akan terpengaruh yang dapat mengakibatkan udema jaringan lunak, perdarahan keotot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah. Organ tubuh dapat mengalami cedera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau fragmen tulang.

b. Jenis Fraktur
    1. Fraktur Komplet
        adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran dari posisi normal
2. Fraktur Tidak komplet
yaitu patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang
3. Fraktur Tertutup ( simpel)
Yaitu fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit
4. Fraktur Terbuka (komplikata atau kompleks)
merupakan fraktur dengan luka pada kulit adau membran mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur terbuka dibagi menjadi:
a.       Grade I dengan luka bersih panjangnya kurang dari 1 Cm
b.      Greade II luka lebih luas tanpa kerusaka jaringan lunak yang ekstensif.
c.       Grade III mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensi yang sangat terkontaminasi dan merupakan yang paling berat.
Fraktur juga digolongkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang: fraktur bergeser atau tidak bergaser. Berikut adalah berbagai jenis kusus fraktur:
â  Green stick. Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainya membengkok.
â  Trasfersal. Fraktur sepanjang garis tengah tulang.
â  Oblik, fraktur membetuk sudut denga membentuk garis tengah tulang (lebih tidak stabil daibanding transfersal).
â  Spiral, fraktur memuntir seputar batang tulang.
â  Kominutiv, fraktur dalam tulang pecah menjadi beberapa fragmen.
â  Depresi, fraktur dengan fragmen patahn terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah).
â  Kompresi, fraktur dimana tulang mengalami kompresi ( terjadi pada tulang belakang).
â  Patologik, fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit paget, metstasis tulang, tumor).
â  Avolsi, tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada perlekatannya.
â  Epifiseal, fraktur melalui ipifisis.
â  Impaksi, fraktur dimana tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.

c. Etiologi dan Faktor risiko
Etiologi fraktur:
1.      Cedera traumatik pada tulang
-          Cedera langsung : pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah secara spontan
-          Cedera tidak langsung : pukulan langsung berada jauh dari benturan
2.                                                            Fraktur patologi
Kerusakan tulang terjadi akibat proses penyakit dimana denagn trauma minor yang dapt mengakibatkan fraktur dapat terjadi pada tumor tulang, osteomilitis, osteomalasia.
            Faktor risiko fraktur
1. Faktor risiko biologi antara lain: osteoporosis, neoplasma, cushing syndrom, terapi kortison, penuaan, malnutrisi, osteogenesis imperfecta.
2. Aktivitas perilaku berisiko tinggi seperti skateboarding, skydiving, mountain    climbing,
3. Kekerasan anak dan dewasa meningkatkan kejadian terjadinya fraktur

d. Manifestasi Klinis
1.  Nyeri, terus menerus dan bertambah berat sampai fragme tulang di imobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk menimbulkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Setelah fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa). Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstimitas yang bisa diketahui adengan membandingkan dengan ekstrimitas normal. Ekstrimitas tak dapat berfungsi denga baik karena fungsi normal otot tergantung pada integritas tulag tempat melengketnya otot.
3.  Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang karena kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur.
4.  Saat diperiksa dengan tangan teraba derik tulang yang disebut krepitus akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya (uji kreptus dapat berakibat kerusakan jaringan lunak yang lebih berat)
5.  Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit karena trauma dan perdarahan  yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelahb eberapa jam atau hari.
      Tidak semua tanda dan gejala diatas terdapat pada setiap fraktur. Diagnosis fraktur tergantung pada gejala, tanda fisik, dan pemeriksaaan sinar X.

  1. Penatalaksanaan Kedaruratan.
Bila dicurigai adanya fraktur penting untuk mengimobilisasi bagian tubuh segera sebelum pasien dipindahkan bila pasien yang mengalami cidera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian, ekstrimitas harus disangga diatas dan di bawah tempat fraktur untuk mencegah gerakan rotasi/angulasi. Gerakan frgmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan lunak, dan perdarahan lebih lanjut. Nyeri dapat dikurangi dengan menghindari gerakan fragmnen tulang dan sendi sekitar fraktur. Pembidaian sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang.
            Imobilisasi tulang panjang ekstrimitas bawah juga dapat dilakukan dengan membebat kedua tungkai bersama, dengan ekstrimitas yang sehat sebagai bidai bagi ekstrimitas yang cidera.
            Pada ekstrimitas atas lengan dapat dibebatkan pada dada atau lengan bawah yang cidera digantung pada sling. Pada fraktur terbuka luka ditutup dengan pembalut bersih atau steril untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam, jangan sekali-kali melakukan reduksi fraktur bahkan jika ada fragmen tulang melalui luka.

e.  Prinsip Penanganan Reduksi Fraktur
1. Reduksi fraktur, mengembalikan fragmen tulang  pada kesejajarannya dan rotasi anatomis.  Reduksi tertutup, fraksi, atau reduksi terbuka dapat dilakukan untuk mereduksi fraktur. Metode yang dipilih tergantung pada sifat fraktur tapi prinsip yang mendasari sama. Sebelum reduksi dan imobilisasi fraktur pasien harus dipersiapkan: ijin melakukan prosedur, analgetik sesuai ketentuan, dan persetujuan anestasi.
Reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisiya dengan manipulasi dan traksi manual.
2. Traksi, digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi yang disesuaikan dengan spsme otot yang terjadi.
3.  Reduksi terbuka, alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku, atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya.
4. Imobilisasi Fraktur, setelah direduksi fragmen tulang harus di imobilisasi dan dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksternal (gips,pembalutan, bidai, traksi kontinyu, pin dan teknik gips atau fiksator eksternal) dan interna ( implant logam ).
5.  Mempertahankan dan mengembalikan fungsi, segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi dam imoblisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan. Status neuroveskuler ( mis. Pengkajian peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan) dipantau dan ahli bedah ortopedi diberi tahu segera bila ada tanda gangguan neurovaskuler. Kegelisahan, ansietas dan ketidaknyamanan dikontrol dengan berbagai pendekatan. Latihan isometrik dan setting otot diusahaka untuk meminimalkan atrifi disuse dan meningkatkan peredaran darah. Pengembalian brtahap pada aktifitas swemula diusahakan sesuai dengan batasan terapeutik.
6.  Faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur.
â  Imoblisasi fragmen tulang
â  Kontak fragmen tulang maksimal
â  Asupan darah yang memadai
â  Utrisi yangbaik
â   Latihan pembebanan untuk tulang panjang
â  Hormon-hormonn pertumbuhan , tiroid, kaisitonon, vitamin D, steroid dan anabolik
â  Potensial listrik pada patahan tulang
7. Faktor yang menghambat penyembuhan tulang
â  Trauma lokal ekstensif
â  Kehilangan tulang
â  Imoblisasi tak memadai
â  Rongga atau ajaringan diantara fragmen tulang
â  Infeksi
â  Keganasan lokal
â  Penyakit tulang metabolik (paget)
â  Tadiasi tulang (nekrosis radiasi)
â  Nekrosis evakuler
â  Fraktur intraartikuler (cairan senovial mengandung fibrolisin, yang akan melisis bekuan darah awal dan memperlambat pertumbuhan jendalan)
â  Usia (lansia sembuh lebih lama)
â  Kartikusteroid (menghambat kecepata perbaikan

f.Perawatan Pasien Fraktur tertutup
Pasien dengan fraktur tertutup harus diusahakan untuk kembali kepada aktifitas biasa sesegera mungkin. Penyembuhan fraktur dan pengembalian kekuatan penuh dan mobilitas memerlukan waktu berbulan-bulan. Pasien diajari mengontrol pembengkakan dan nyeri, mereka didorong untuk aktif dalam batas imoblisasi fraktur, pengajaran pasien meliputi perawatan diri, informasi obat-obatan, pemantauan kemungkinan potensial masalah, dan perlunya supervisi perawatan kesehatan.
g.Perawatan Pasien Fraktur Terbuka
Pada fraktur terbuka (yang berhubungan luka terbuka memanjang  sampai ke permukaan kulit dan ke daerah cedera tulang) terdapat resiko infeksi-osteomielitis, gas gangren, dan tetanus. Tujuan penanganan adalah untuk meminimalkan kemungkinan infeksi luka, jaringan lunak da tulang untuk mempercepat penyembuhan jaringan lunak dan tulang. Pasien dibawa ke ruang operasi, dilakukan usapan luka, pengangkatan fragmen tulang mati atau mungkin graft tulang.
h.  Komplikasi Fraktur
a.  Komplikasi awal
     Komplikasi awal setelah fraktur adalah :
      -  syok , yang bisa berakibat fatal setelah beberapa jam setelah cidera;
      -  emboli lemak;
      - dan sindrom kompartemen yang bisa berakibat kehilangan fungsi ekstimitas permanen   jika tidak segera ditangani.
Komplikasi awal lainya yang berhubungan dengan fraktur adalah infeksi, tromboemboli, (emboli paru), dan juga koagulapati intravaskuler diseminata (KID)
  1. Komp1ikasi lambat
Komplikasi lambat yang dapat terjadi setelah fraktur dan dilakukan tindakan adalah :
    -  Penyatuan terlambat atau tidak ada penyatuan dapat dibantu dengan stimulasi elektrik osteogenesis karena dapat mamodifikasi lingkungan jaringan membuat bersifat elektronegatif sehingga meningkatkan deposisi mineral dan pembentukan tulang.
  -   Nekrosis evaskuler tulang terjadi bila tulang kehilangan asupan darah dan mati.
  -   Reaksi terhadap alat fiksasi internal.
     
i.  Fraktur Klavikula.
      Fraktur klavikula merupakn cedra yang sering terjadi karena jatuh atau akibat hantaman langsung ke bahu. Cedra kepala yang menyertai sering terjadi bersama dengan fraktur ini.
      Klavikula membantu mengangkat bahu ke atas, ke luar, dan ke belakang  thoraks. Maka, bila klavikula pata, apsien akan terlihat bdalam posisi melindungi bahu jautuh ke bawah dan mengimobilisisi lengan untuk menghindari gerakan bahu. Tujuan penangannya adalah menjaga bahu tetap dalam posisi normalnya denagn cara reduksi tertutup dan imobilisasi.
      Lebih dari 80% fraktur ini terjadi pada sepertiga tengan atai proksimal klavilkula. Modifikasi spika bahu (gips klavikula) tau balutan berbentuk angka delapan dapat dipergunakan untuk mereduksi fraktur ini, menarik bahu ke belakang dan mempertahankannya dlam posisi ini. Fraktur sepertiga distal klavikula tanpa pergeseran dan terpotongnya ligamen dapa ditangani dengan sling dan perbatasan gerakan lengan. Bila fraktur sepertiga disatal disertai denagn terputusnya ligamen korakoklavikula akan terjadi pergeseran yang harus ditangani dengan reduksi terbuka dan fikasasi interna.
      Komplikasi fraktur klavikula meliputi trauma saraf pada pleksus brachialis, cedera vena atau arteria subklavia akibat fragmen tulang dan malunion (penyimpangan penyatuan).
Penanganan.
Pendidikan pasien dan pertimbangan di rumah, pasien diingatkan untuk tidak menaikan lengan lebih tinggi dari bahu sampai ujung patahan tulang mengalami penyatuan ( sekitar 6 minggu), namun didorong untuk melakukan latiahan siku, pergelangan tangan dan jari-jari untuk mencapai gerakan bahu yang sempurna. Aktivitas berlebihan harus dibatasi sampai selama 3 bulan.

PENGERTIAN, PENYEBAB, TANDA GEJALA, PENCEGAHAN & PENGOBATAN BRONKOPNEUMONIA


LAPORAN PENDAHULUAN
BRONKHOPNEUMOIA


A.   DEFINISI

·        Brokhopneumonia digunakan untuk mengganbarkan pneumonia yang mempunyai pola penyebaran beebercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi dialambronkhi dan meluas ke parenkhim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pada brokhopneumonia terjadi konsolidasi area berbercak ( Smeltzer, 2001 ).

·        Brokhopneumonia adalah radang noduler saluran nafas bagian bawah yang ditandai dengan demam, batuk, sesak (peningkatan frekuensi pernafasa, nafas cuping hidung, retraksi dinding dada dan kadang – kadang sianosis dengan terjadinya infiltrate atau konsolidasi jaringan interstitial dan paenkhim paru oleh sel – sel radang ( Sudaryat Suraatmaja, 2000 ).
·        Brokhopneumonia adalah suatu peradangan pada alveolar dan parenkhim paru yang terjadi noduler anak ( Siriadi dan Rita Yuliani, 2001 ).
·        Brokhopneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam – macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur, dan benda – benda asing ( Ngastiyah, 2003 ) 
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan benda asing.

B.KLASIFIKASI
Ø Menurut Zul DAhlan, 2001 :
a)     Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas :
·        Pneumonia tipikal, bercirikan tanda – tanda pneumonia lobaris dngan opsitas lobus atau lobularis.
·        Pneumonia atipikal, ditandai dengan gangguan respirasiyang meningkat lambat dengan gambaran infiltrate paru bilateral yang difus.
b)    Berdasarkan factor lingkungan :
·        Pneumonia komunitas
·        Pneumonia nosokomial
·        Pneumonia rekurens
·        Pneumonia aspirasi
·        Pneumonia pada gangguan imun
·        Pneumonia hipostatik
c)     Berdasarkan sindrom klinis :
·        Pneumonia bacterial berupa : pneumonia bacterial tipe tipikal yang terutama mengenai parenkhim paru dalam bentuk brokhopneumonia dan pneumonia lobar serta pneumonia bakterila tipe campuran atipikal yaitu perjalanan penyakit ringan dan jarang disertai konsolidasi paru.
·        Pneumonia non bacterial, dikenal dengan pneumonia atipikal yang disebabkan Mycoplasma, Chlamydia pneumonia atau Legionella,

Ø Menurut Reeves, 2001 :
a.     Community Acquired Pneumonia dimulai sebagai akibat penyakit pernafasan umum dan bisa berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia Streptococal merupaka organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini biasanya menimpa kalangan anak – anak atau orang tua.
b.     Hospital Acquired Pneumonia dikenal dengan pneumonia nosokomial. Organisme seperti Aerugimonas Pseudomonia, Klibseilia atau Stapilococcus, merupakan bakteri umum penyebab hospital acquired pneumonia.
c.      Lobar dan Bronkhopneumonia dikategorika berdasarkan lokasi anatomi infeksi. Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme, bukan lokasi anatominya saja.
d.     Pneumonia viral, bakterila dan fungi dikategorikan berdasarakan pada agen penyebabnya, kultur sensitifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme perusak. 

C.ETIOLOGI
a.     Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organism gram positif seperti : Streptococcus pneumonia, S. aerous, dan Stretococcus pyogenesis. Bakteri gram negative : Haemophilus influenza, Klebsiella pneumonia dan P. aureginosa.
b.     Virus
Disebabkan oleh virus influenza yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
c.      Jamur
Infeksi disebabkan jamur seperti : Histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos.
d.     Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystisis Carinii Pneumonia ( CPC ). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami imunosupresi (Reeves, 2001 ).
  
D.   PATOFISIOLOGI
Bronchopneumonia merupakan infeksi sekuler yang biasanya disebabkan oleh virus penyebab bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan bronchus dan alveolus. Inflamasi bronchus ditandai adanya penumpukan secret sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronkhi positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka kopliaasi yag terjasi adalah kolaps alveoli, emfisema dan ateletaksis.
Kolaps alveoli akan menyebabkan penyempitan jalan nafas, sesak nafas dan ronkhi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berfungsi untuk melembabakan rongga pleura. Emfisema ( tertimbunya cairan atau pus dalam rongga paru ) adalah tindak lanjut pembedahan. Ateletaksis mengakibatkan peningkatan frekuensi nafas, hipoksemia, asidosis respiratory, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang mengakibtkan terjadinya gagal nafas.  

E. PATHWAY

Virus


Saluran pernafasan
 


Peradangan bronchus dan alveolus


Penunpukan secret    Demam       Mual           Pembengkakan










 



Bersihan jalan                Hipertensi   Perubahan         
nafas tidak                                                  nutrisi kurang
efektif                                                dari
                                                          kebutuhan
                                                          tubuh
                                                                                           penurunan
                                                                                           kecepatan difusi
                                                                                           gas


 


ketidakseimbangan suplay dan kebutuhan oxigen
                                           Penurunan kapiler                                     
                                           alveoli                                              
                                        kelelahan
                                                                                                    
                                           gangguan
                                           perrukaran gas               intoleransi aktivitas


F. MANIFESTASI KLINIS
a.     Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
§  Nyeri pleuritik
§  Nafas dangkal dan mendengkur
§  takipnea
b.     Bunyi nafas di atas area yang mengalami konsolidasi
§  Mengecil, kemudian menjadi hilang
§  Krekels, ronkhi, egofoni
c.      Gerakan dada tidak simetris
d.     Menggigil dan demam 38,8o C sampai 41,1o, delirium
e.      Diaphoresis
f.       Anoreksia
g.     Malaise
h.     Batuk kental, produktif
§  Sputum kuning kehijauan kemudianberubah menjadi kemerahan dan berkarat
i.       Gelisah
j.       Sianosis
§  Area sirkumolar
§  Dasar kuku kebiruan
k.     Masalah – masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati
G.   PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pengambilan sekret secara broncoscopy dan fungsi paru untuk preparasi langsung, biakan dan tes resistensi dapat menemukan atau mencari etiologinya tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar.
a)     Pemeriksaan Laboratorium
o   Pemeriksaan darah
Pada kasus bronchopneumonia oleh bakteri akan terjadi leukositosis (meningkatnya jumlah neutrofil). (Sandra M. Nettina, 2001 : 684)
o   Pemeriksaan sputum
Bahan pemeriksaan yang terbaik diperoleh dari batuk yang spontan dan dalam. Digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis dan untuk kultur serta tes sensitifitas untuk mendeteksi agen infeksius. (Barbara C, Long, 1996 : 435)
o   Analisa gas darah untuk mengevaluasi status oksigenasi dan status asam basa. (Sandra M. Nettina, 2001 : 684)
o   Kultur darah untuk mendeteksi bakteremia
o   Sampel darah, sputum, dan urin untuk tes imunologi untuk mendeteksi antigen mikroba. (Sandra M. Nettina, 2001 : 684)

o   Leukosist à 15.000-40.000/m dengan pergeseran LED meninggi
o   Pemeriksaan darah menurut lekositosis dengan lekositosis dengan prediominan PMN atau dapat ditemukan leukopenia yang menandakan prognosis buruk, dapat ditemukan anemia ringan dan sedang.
b)    Pemeriksaan radiologis
·        bercak konsolidasi merata pada bronchopneumonia
·        Bercak konsolidasi satu lobus pada pneumonia lobaris
·         gambaran bronchopneumonia difus atau infiltrat intertitialis pada pneumonia stafilokok
c)     Rontgenogram Thoraks
Menunjukkan konsolidasi lobar yang seringkali dijumpai pada infeksi pneumokokal atau klebsiella. Infiltrat multiple seringkali dijumpai pada infeksi stafilokokus dan haemofilus. (Barbara C, Long, 1996 : 435)
d)    Laringoskopi/ bronkoskopi untuk menentukan apakah jalan nafas tersumbat oleh benda padat. (Sandra M, Nettina, 2001)

H.   PENATALAKSANAAN
1.     Penatalaksanaan Medis
Kemoterapi untuk mycoplasma pneumonia, dapat diberikan Eritromicin 4 x 500 mg sehari atau tatrasiklin 3-4 mg sehari. Obat-obatan ini meringankan dan mempercepat penyembuhan terutama pada kasus yang berat.
2.     Penatalaksanaan Keperawatan
a.     Istirahat, umunya penderita tidak perlu dirawat, cukup istirahat di rumah.
b.     Simptomatik terhadap batuk.
c.      Diberikan mukolitik untuk mengencerkan lendir dan ekpektoran untuk memudahkan pengeluaran dahak atau getah radang dari paru.
d.     Bila terdapat obtruksi jalan napas, dan lendir diberikan broncodilator.
e.      Pemberian oksigen umumnya tidak diberikan kecuali kasus berat. Antibiotik yang paling baik adalah antibiotik yang sesuai dengan penyebab yang mempunyai spektrum sempit.
f.       Cairan intravena D5% dan KAEN 3A
g.     Atipiterik diberikan apabila demam
h.     Diet TKTP, selama masih sesak napas hati-hati dalam pemberian makanan per oral.

I.    KOMPLIKASI
·        Ateletaksis, yaitu pengembangan paru – paru yang tidak sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang. Terjadi apabila penumpukan sekret akibat berkurangnya daya kembang paru-paru terus terjadi. Penumpukan sekret ini akan menyebabkan obstruksi bronchus intrinsik. Obstruksi ini akan menyebabkan atelektasis obstruksi dimana terjadi penyumbatan saluran udara yang menghambat masuknya udara ke dalam alveolus.
·        Emfisema, yaitu suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura
·        Abses paru, yaitu pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang
·        Infeksi sisitemik
·        Endokarditis, yaitu peradangan pada setiap katup endokardial
·        Meningitis, yaitu infeksi menyerang selaput otak. Ini disebabkan apabila terjadi penyebaran virus haemophilus influenza melalui hematogen ke system saraf sentral. Penyebaran juga bisa dimulai saat terjadi infeksi saluran pernafasan